Rabu, 05 Juni 2013

CERITA DALAM AL-QUR’AN DAN ISRAILIYYAT

-->
CERITA DALAM AL-QUR’AN DAN ISRAILIYYAT

Makalah
Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah: Ulumul Qur’an
Dosen Pengampu: Dr. Nur mahmudah, MA




Disusun oleh:
Muchammad 'Izzul Ma'aly
111516

 

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS JURUSAN TARBIYAH/ PBA-B
2012

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Teks al-Qur'an adalah wahyu Allah yang tidak akan berubah oleh campur tangan manusia, tapi pemahaman terhadap al-Qur'an tidak tetap, selalu berubah sesuai dengan kemampuan orang yang memahami isi kandungan al-Qur'an itu dalam rangka mengaktualkannya dalam bentuk konsep yang bisa dilaksanakan. Dan ini akan terus berkembang sejalan tuntutan dan permasalahan hidup yang dihadapi manusia, maka di sinilah celah-celah orang yang ingin menghancurkan Islam berperan.
Dalam makalah ini, kami akan membahas tema israiliyat dari sudut apa pengertian israiliyyat, bagaimana proses masuk dan berkembangnya israiliyyat dalam tafsir dan bagaimana pengaruh israiliyyat dalam penafsiran al-Qur'an.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian dari israiliyyat?
2.      Bagaimana proses masuknya dan berkembangnya israiliyyat dalam tafsir?
3.      Bagaimana pengaruh israiliyat dalam penafsiran al-Qur’an?



BAB II
PEMBAHASAN
1.    Pengertian Israiliyyat
Ditinjau dari segi bahasa kata israiliyyat adalah bentuk jamak dan kata israiliyah, yakni bentuk kata yang dinisbahkan pada kata Israil yang berasal dari bahasa Ibrani, Isra bararti hamba dan il berarti Tuhan, jadi Israil adalah hamba Tuhan. Dalam deskreptif histories, Israil barkaitan erat dengan Nabi Ya'kub bin Ishaq bin Ibrahim as, dimana keturunan beliau yang berjumlah dua betas disebut Bani Israil. Di dalam al-Qur'an banyak disebutkan tentang Bani Israil yang dinisbahkan kepada Yahudi.[1] Misalnya firman Allah dalam surah al-Maidah: 78, al-Isra: 4, an-Naml: 76.
Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam.Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. (al-Maidah: 78)
Dan telah kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu, sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar. (al-isra:4)
Sesungguhnya al-Qur'an ini menjelaskan kepada Bani Israel sebagian besar dari (perkara-perkara) yang mereka berselisih tentangya (an-Naml: 76).
Secara istilah para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan israilliyyat. Menurut adz-Dzahabi israiliyyat mengandung dua pengertian yaitu, Pertama: kisah dan dongeng yang disusupkan dalam, tafsir dan hadits yang asal periwayatannya kembali kepada sumbernya yaitu Yahudi, Nashrani dan yang lainnya. Kedua: cerita-cerita yang sengaja diselundupkan oleh musuh-musuh Islam ke dalam tafsir dan hadits yang sama sekali tidak dijumpai dasarnya dalam sumber-sumber lama.[2] Namun secara umum israiliyyat adalah kisah atau berita yang diriwayatkan dari sumber-sumber yang berasal dari orang israil.[3] Al-Qur’an sendiri banyak membicarakan hal-hal yang terdapat dalam kitab suci, khususnya yang berhubungan dengan kisah para nabi dan berita umat terdahulu. Namun dalam al-Qur’an kisah-kisah itu hanya dikemukakan secara singkat dengan menitikberatkan pada waktu peristiwa, nama-nama negeri dan nama-nama pribadi.[4]

2.    Proses Masuk dan Berkembangnya Israiliyyat dalam Tafsir
Kisah israiliyyat dalam tafsir al-Qur'an tidak lepas dari kondisi sosio kultural masyarakat Arab pada zaman jahiliyah.[5] Pengetahuan mereka tentang israiliyyat telah lama masuk ke dalam benak keseharian mereka sehingga tidak dapat dihindari adanya interaksi kebudayaan Yahudi dan Nashrani dengan kebudayaan Arab yang kemudian menjadi jazirah Islam itu. Sejak tahun 70 M terjadi imigrasi besar-besaran orang Yahudi ke Jazirah Arab karena adanya ancaman dan siksaan dari penguasa Romawi yang bernama Titus. Mereka pindah bersama dengan kebudayaan yang mereka ambil dari Nabi dan Ulama mereka, serta mereka wariskan dari generasi ke generasi. Mereka mempunyai tempat yang bernama Midras sebagai pusat pengajian kebudayaan warisan yang telah mereka terima dan menemukan tempat tertentu sebagai tempat beribadah dan menyiarkan agama mereka.[6] Selain itu juga bangsa Arab sering berpindah pindah, baik kearah timur maupun barat. Mereka memiliki dua tujuan dalam berpergian. Bila musim panas pergi ke Syam dan dingin pergi ke Yaman. Pada waktu itu di Yaman dan Syam banyak sekali ahli kitab yang sebagian besar adalah bangsa Yahudi. Karena itu tidaklah mengherankan bila antara orang arab dengan yahudi terjalin hubungan.
Setelah Rasul wafat, tidak seorangpun yang berhak menjadi penjelas wahyu Allah. Pada era shahabat inilah israiliyyat mulai berkembang dan tumbuh subur. Hanya saja dalam menerima riwayat dan kaum Yahudi dan Nashrani pada umumnya mereka amat ketat. Mereka hanya membatasi kisah-kisah dalam al-Qur'an secara global dan Nabi sendiri tidak menerangkan kepada mereka kisah-kisah tersebut. Disamping itu mereka terkenal sebagai orang-orang yang konsekuen dan konsisten pada ajaran yang diteima dari Rasulullah saw, sehingga jika mereka menjumpai kisah-kisah israiliyyat yang bertentangan dengan syari'at Islam, mereka menentangnya.[7]
Pada era tabi'in, penukilan dari ahli Kitab semakin meluas dan cerita-cerita israiliyyat dalam tafsir semakin berkembang. Sumber cerita ini adalah orang-orang yang masuk Islam dari kalangan ahli Kitab yang jumlahnya cukup banyak dan ditunjang oleh keinginan yang kuat dari orang-orang untuk mendengar kisah-kisah yang ajaib dalam kitab mereka. Oleh karenanya pada masa tersebut muncul sekelompok mufassir yang ingin mengisi kekosongan pada tafsir, yang menurut mereka dengan memasukan kisah-kisah yang bersumber pada orang-orang yang Yahudi dan Nasrani. Sehingga karenanya tafsir-tafsir tersebut menjadi simpang siur dan bahkan kadang-kadang mendekati takhayul dan khurafat. Diantaranya adalah Muqatil bin Sulaiman. Pada era ini pula banyak hadits-hadits palsu, kedustaan dan kebohongan yang disandarkan kepada Rasulullah saw tersebar.[8]
Ada beberapa faktor yang menyebabkan masuknya israiliyyat dalam tafsir yaitu:[9] Pertama, perbedaan metodologi antara al-Qur'an, Taurat dan Injil. Al-Qur'an dalam global dan ringkasan titik tekannya adalah memberikan petunjuk jalan yang benar bagi manusia, sedangkan Taurat dan Injil mengemukakan secara terinci, perihal, waktu dan tempatnya. Ketika menginginkan pengetahuan secara lebih teperinci tentang kisah-kisah umat Islam bertanya kepada kelompok Yahudi dan Nasrani yang dianggap lebih. Kedua, rendahnya kebudayaan masyarakat Arab karena kehidupan mereka yang kurang banyak yang pandai dalam hal tulis menulis (ummi). Meskipun pada umumnya ahli Kitab juga selalu berpindah-pindah, tetapi pengetahuan mereka tentang sejarah masa lampau lebih luas. Ketiga, ada justifikasi dari dalil-dalil naqlilah yang difahami masyarakat Arab sebagai pembenaran bagi mereka untuk bertanya pada ahli Kitab. Keempat, adalah heterogenitas penduduk. Menjelang masa kenabian Muhammad saw jazirah Arab dihuni juga oleh kelompok Yahudi dan Nasrani.
3.    Pengaruh Israiliyyat dalam Penafsiran al-Qur'an
Menurut Zainul Hasan Rifa'i,[10] masuknya israiliyyat dalam penafsiran al-Qur'an terutama yang bertentangan dengan prinsif asasinya banyak menimbulkan pengaruh negatif pada Islam. Diantaranya adalah merusak akidah umat Islam, seperti yang dikemukakan oleh Mudatil ataupun Muhammad dengan Zainab binti Jahsyi yang keduanya mendiskripsikan pribadi Nabi yang ma'shum serta menggambarkan Nabi sebagai pemburu nafsu seksual.
Ditambahkannya masuknya israiliyyaat ini memalingkan perhatian umat Islam dalam mengkaji soal-soal keilmuan Islam. Dengan larutnya umat Islam ke dalam keasyikan menikmati kisah-kisah israiliyyaat, mereka tidak lagi antusias memikirkan hal-hal makro, seperti sibuk dengan nama dan anjing Ashabul Kahfi, jenis kayu dari tongkat Nabi musa as, nama binatang yang ikut serta dalam perahu Nabi Nuh as dan sebagainya dimana perincian itu tidak dinamakan dalam al-Qur'an karena memang tidak bermanfaat. Sekiranya bermanfaat al-Qur'an tentu menjelaskan.
Selanjutnya adz-Dzahabi mengatakan israiliyyat akan merusak akidah kaum muslimin karena mengandung unsur penyerupaan dan pengkongkritan (tasybih dan tajsim) kepada Allah dan mensifati Allah dengan sifat yang tidak sesuai keagungan dan kesempumaan-Nya. Cerita itupun mengandung unsur ismah (terpeliharanya) Nabi dan para Rasul dari dosa, menggambarkan mereka dalam bentuk yang menonjol bentuk syahwatnya, mendorong mereka pada perbuatan-perbuatan buruk yang tidak pantas dan layak bagi orang yang adil, apalagi orang yang menjadi Nabi.[11]



BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Israiliyyat adalah bentuk jamak dari israiliyyah, yakni bentuk kata yang dinisbahkan kepada kata israil yang berasal dari bahasa lbram, isra berarti hamba dan it berarti Tuhan, jadi israil artinya adalah hamba Tuhan. Dalam perspektif histories israil berkaltan erat dengan Nabi Ya'kub bin Ishaq as, dimana keturunan beliau yang berjumlah dua belas disebut Bani Israil. Secara istilah israiliyyat adalah kisah dan dongeng yang disusupkan dalam tafsir dan hadits yang asal riwayatnya disandarkan atau bersumber pada Yahudi, Nashrani dan lainnya atau cerita-cerita yang secara sengaja diselunduplan oleh musuh-musuh Islam ke dalam tafsir dan hadits, yang sama sekali tidak dijumpai dalam sumber-sumber yang sahih. Masuknya israiliyyat dalam tafsir tidak terlepas dari kondisi sosio kultural masyarakat arab pada zaman jahiliyah. Adanya migrasi besar-besaran orang Yahudi pada tahun 70 M ke jazirah Arab karena ancaman dari Romawi yang dipimpin oleh kaisar Titus menimbulkan kontak antara keduanya, ditambah lagi kondisi orang arab sendiri yang sering melakukan perjalanan dagang ke Syam dan Yaman, di Madinah sendiri banyak orang Yahudi yang bermukim di sana.
Keberadaan israiliyyat dalam tafsir banyak memberikan pengaruh buruk, sikap teliti yang diperlihatkan oleh para sahabat dalam mentransfer. Israiliyyat tidak menjadi perhatian generasi sesudahnya, sehingga banyak israiliyyat yang mengandung khurafat dan bertentangan dengan nash mengenai kitab tafsir.

Daftar Pustaka
Suhadi. 2011. Ulumul Qur’an. Kudus: Nora Media Enterprise.
Mudzakir. 2001. Manna’ Kholil al-Qathan Studi Ilmu-Ilmu Qur’an. Jakarta: Pustaka Litera Antarnusa.



[1] Suhadi. Ulumul Qur’an. 2011. Kudus: Nora Media Enterprise. Hlm:173.
[2] Ibid. Hlm: 175.
[3] Ibid. Hlm: 173.
[4] Mudzakir. Manna’ Kholil al-Qathan Studi Ilmu-Ilmu Qur’an. 2001. Jakarta: Pustaka Litera Antarnusa. Hlm: 492.
[5] Op.Cit, Suhadi. Hlm: 177.
[7] Op.Cit, Suhadi. Hlm: 183.
[8] Op.Cit, Farihatni Mulyani.
[9] Op.Cit, Suhadi. Hlm: 184.
[10] Op.Cit, Farihatni Mulyani.
[11] Op.Cit, Suhadi. Hlm: 192.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar