Wikipedia

Hasil penelusuran

Rabu, 05 Juni 2013

CERITA DALAM AL-QUR’AN DAN ISRAILIYYAT

-->
CERITA DALAM AL-QUR’AN DAN ISRAILIYYAT

Makalah
Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah: Ulumul Qur’an
Dosen Pengampu: Dr. Nur mahmudah, MA




Disusun oleh:
Muchammad 'Izzul Ma'aly
111516

 

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS JURUSAN TARBIYAH/ PBA-B
2012

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Teks al-Qur'an adalah wahyu Allah yang tidak akan berubah oleh campur tangan manusia, tapi pemahaman terhadap al-Qur'an tidak tetap, selalu berubah sesuai dengan kemampuan orang yang memahami isi kandungan al-Qur'an itu dalam rangka mengaktualkannya dalam bentuk konsep yang bisa dilaksanakan. Dan ini akan terus berkembang sejalan tuntutan dan permasalahan hidup yang dihadapi manusia, maka di sinilah celah-celah orang yang ingin menghancurkan Islam berperan.
Dalam makalah ini, kami akan membahas tema israiliyat dari sudut apa pengertian israiliyyat, bagaimana proses masuk dan berkembangnya israiliyyat dalam tafsir dan bagaimana pengaruh israiliyyat dalam penafsiran al-Qur'an.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian dari israiliyyat?
2.      Bagaimana proses masuknya dan berkembangnya israiliyyat dalam tafsir?
3.      Bagaimana pengaruh israiliyat dalam penafsiran al-Qur’an?



BAB II
PEMBAHASAN
1.    Pengertian Israiliyyat
Ditinjau dari segi bahasa kata israiliyyat adalah bentuk jamak dan kata israiliyah, yakni bentuk kata yang dinisbahkan pada kata Israil yang berasal dari bahasa Ibrani, Isra bararti hamba dan il berarti Tuhan, jadi Israil adalah hamba Tuhan. Dalam deskreptif histories, Israil barkaitan erat dengan Nabi Ya'kub bin Ishaq bin Ibrahim as, dimana keturunan beliau yang berjumlah dua betas disebut Bani Israil. Di dalam al-Qur'an banyak disebutkan tentang Bani Israil yang dinisbahkan kepada Yahudi.[1] Misalnya firman Allah dalam surah al-Maidah: 78, al-Isra: 4, an-Naml: 76.
Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam.Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. (al-Maidah: 78)
Dan telah kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu, sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar. (al-isra:4)
Sesungguhnya al-Qur'an ini menjelaskan kepada Bani Israel sebagian besar dari (perkara-perkara) yang mereka berselisih tentangya (an-Naml: 76).
Secara istilah para ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan israilliyyat. Menurut adz-Dzahabi israiliyyat mengandung dua pengertian yaitu, Pertama: kisah dan dongeng yang disusupkan dalam, tafsir dan hadits yang asal periwayatannya kembali kepada sumbernya yaitu Yahudi, Nashrani dan yang lainnya. Kedua: cerita-cerita yang sengaja diselundupkan oleh musuh-musuh Islam ke dalam tafsir dan hadits yang sama sekali tidak dijumpai dasarnya dalam sumber-sumber lama.[2] Namun secara umum israiliyyat adalah kisah atau berita yang diriwayatkan dari sumber-sumber yang berasal dari orang israil.[3] Al-Qur’an sendiri banyak membicarakan hal-hal yang terdapat dalam kitab suci, khususnya yang berhubungan dengan kisah para nabi dan berita umat terdahulu. Namun dalam al-Qur’an kisah-kisah itu hanya dikemukakan secara singkat dengan menitikberatkan pada waktu peristiwa, nama-nama negeri dan nama-nama pribadi.[4]

2.    Proses Masuk dan Berkembangnya Israiliyyat dalam Tafsir
Kisah israiliyyat dalam tafsir al-Qur'an tidak lepas dari kondisi sosio kultural masyarakat Arab pada zaman jahiliyah.[5] Pengetahuan mereka tentang israiliyyat telah lama masuk ke dalam benak keseharian mereka sehingga tidak dapat dihindari adanya interaksi kebudayaan Yahudi dan Nashrani dengan kebudayaan Arab yang kemudian menjadi jazirah Islam itu. Sejak tahun 70 M terjadi imigrasi besar-besaran orang Yahudi ke Jazirah Arab karena adanya ancaman dan siksaan dari penguasa Romawi yang bernama Titus. Mereka pindah bersama dengan kebudayaan yang mereka ambil dari Nabi dan Ulama mereka, serta mereka wariskan dari generasi ke generasi. Mereka mempunyai tempat yang bernama Midras sebagai pusat pengajian kebudayaan warisan yang telah mereka terima dan menemukan tempat tertentu sebagai tempat beribadah dan menyiarkan agama mereka.[6] Selain itu juga bangsa Arab sering berpindah pindah, baik kearah timur maupun barat. Mereka memiliki dua tujuan dalam berpergian. Bila musim panas pergi ke Syam dan dingin pergi ke Yaman. Pada waktu itu di Yaman dan Syam banyak sekali ahli kitab yang sebagian besar adalah bangsa Yahudi. Karena itu tidaklah mengherankan bila antara orang arab dengan yahudi terjalin hubungan.
Setelah Rasul wafat, tidak seorangpun yang berhak menjadi penjelas wahyu Allah. Pada era shahabat inilah israiliyyat mulai berkembang dan tumbuh subur. Hanya saja dalam menerima riwayat dan kaum Yahudi dan Nashrani pada umumnya mereka amat ketat. Mereka hanya membatasi kisah-kisah dalam al-Qur'an secara global dan Nabi sendiri tidak menerangkan kepada mereka kisah-kisah tersebut. Disamping itu mereka terkenal sebagai orang-orang yang konsekuen dan konsisten pada ajaran yang diteima dari Rasulullah saw, sehingga jika mereka menjumpai kisah-kisah israiliyyat yang bertentangan dengan syari'at Islam, mereka menentangnya.[7]
Pada era tabi'in, penukilan dari ahli Kitab semakin meluas dan cerita-cerita israiliyyat dalam tafsir semakin berkembang. Sumber cerita ini adalah orang-orang yang masuk Islam dari kalangan ahli Kitab yang jumlahnya cukup banyak dan ditunjang oleh keinginan yang kuat dari orang-orang untuk mendengar kisah-kisah yang ajaib dalam kitab mereka. Oleh karenanya pada masa tersebut muncul sekelompok mufassir yang ingin mengisi kekosongan pada tafsir, yang menurut mereka dengan memasukan kisah-kisah yang bersumber pada orang-orang yang Yahudi dan Nasrani. Sehingga karenanya tafsir-tafsir tersebut menjadi simpang siur dan bahkan kadang-kadang mendekati takhayul dan khurafat. Diantaranya adalah Muqatil bin Sulaiman. Pada era ini pula banyak hadits-hadits palsu, kedustaan dan kebohongan yang disandarkan kepada Rasulullah saw tersebar.[8]
Ada beberapa faktor yang menyebabkan masuknya israiliyyat dalam tafsir yaitu:[9] Pertama, perbedaan metodologi antara al-Qur'an, Taurat dan Injil. Al-Qur'an dalam global dan ringkasan titik tekannya adalah memberikan petunjuk jalan yang benar bagi manusia, sedangkan Taurat dan Injil mengemukakan secara terinci, perihal, waktu dan tempatnya. Ketika menginginkan pengetahuan secara lebih teperinci tentang kisah-kisah umat Islam bertanya kepada kelompok Yahudi dan Nasrani yang dianggap lebih. Kedua, rendahnya kebudayaan masyarakat Arab karena kehidupan mereka yang kurang banyak yang pandai dalam hal tulis menulis (ummi). Meskipun pada umumnya ahli Kitab juga selalu berpindah-pindah, tetapi pengetahuan mereka tentang sejarah masa lampau lebih luas. Ketiga, ada justifikasi dari dalil-dalil naqlilah yang difahami masyarakat Arab sebagai pembenaran bagi mereka untuk bertanya pada ahli Kitab. Keempat, adalah heterogenitas penduduk. Menjelang masa kenabian Muhammad saw jazirah Arab dihuni juga oleh kelompok Yahudi dan Nasrani.
3.    Pengaruh Israiliyyat dalam Penafsiran al-Qur'an
Menurut Zainul Hasan Rifa'i,[10] masuknya israiliyyat dalam penafsiran al-Qur'an terutama yang bertentangan dengan prinsif asasinya banyak menimbulkan pengaruh negatif pada Islam. Diantaranya adalah merusak akidah umat Islam, seperti yang dikemukakan oleh Mudatil ataupun Muhammad dengan Zainab binti Jahsyi yang keduanya mendiskripsikan pribadi Nabi yang ma'shum serta menggambarkan Nabi sebagai pemburu nafsu seksual.
Ditambahkannya masuknya israiliyyaat ini memalingkan perhatian umat Islam dalam mengkaji soal-soal keilmuan Islam. Dengan larutnya umat Islam ke dalam keasyikan menikmati kisah-kisah israiliyyaat, mereka tidak lagi antusias memikirkan hal-hal makro, seperti sibuk dengan nama dan anjing Ashabul Kahfi, jenis kayu dari tongkat Nabi musa as, nama binatang yang ikut serta dalam perahu Nabi Nuh as dan sebagainya dimana perincian itu tidak dinamakan dalam al-Qur'an karena memang tidak bermanfaat. Sekiranya bermanfaat al-Qur'an tentu menjelaskan.
Selanjutnya adz-Dzahabi mengatakan israiliyyat akan merusak akidah kaum muslimin karena mengandung unsur penyerupaan dan pengkongkritan (tasybih dan tajsim) kepada Allah dan mensifati Allah dengan sifat yang tidak sesuai keagungan dan kesempumaan-Nya. Cerita itupun mengandung unsur ismah (terpeliharanya) Nabi dan para Rasul dari dosa, menggambarkan mereka dalam bentuk yang menonjol bentuk syahwatnya, mendorong mereka pada perbuatan-perbuatan buruk yang tidak pantas dan layak bagi orang yang adil, apalagi orang yang menjadi Nabi.[11]



BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Israiliyyat adalah bentuk jamak dari israiliyyah, yakni bentuk kata yang dinisbahkan kepada kata israil yang berasal dari bahasa lbram, isra berarti hamba dan it berarti Tuhan, jadi israil artinya adalah hamba Tuhan. Dalam perspektif histories israil berkaltan erat dengan Nabi Ya'kub bin Ishaq as, dimana keturunan beliau yang berjumlah dua belas disebut Bani Israil. Secara istilah israiliyyat adalah kisah dan dongeng yang disusupkan dalam tafsir dan hadits yang asal riwayatnya disandarkan atau bersumber pada Yahudi, Nashrani dan lainnya atau cerita-cerita yang secara sengaja diselunduplan oleh musuh-musuh Islam ke dalam tafsir dan hadits, yang sama sekali tidak dijumpai dalam sumber-sumber yang sahih. Masuknya israiliyyat dalam tafsir tidak terlepas dari kondisi sosio kultural masyarakat arab pada zaman jahiliyah. Adanya migrasi besar-besaran orang Yahudi pada tahun 70 M ke jazirah Arab karena ancaman dari Romawi yang dipimpin oleh kaisar Titus menimbulkan kontak antara keduanya, ditambah lagi kondisi orang arab sendiri yang sering melakukan perjalanan dagang ke Syam dan Yaman, di Madinah sendiri banyak orang Yahudi yang bermukim di sana.
Keberadaan israiliyyat dalam tafsir banyak memberikan pengaruh buruk, sikap teliti yang diperlihatkan oleh para sahabat dalam mentransfer. Israiliyyat tidak menjadi perhatian generasi sesudahnya, sehingga banyak israiliyyat yang mengandung khurafat dan bertentangan dengan nash mengenai kitab tafsir.

Daftar Pustaka
Suhadi. 2011. Ulumul Qur’an. Kudus: Nora Media Enterprise.
Mudzakir. 2001. Manna’ Kholil al-Qathan Studi Ilmu-Ilmu Qur’an. Jakarta: Pustaka Litera Antarnusa.



[1] Suhadi. Ulumul Qur’an. 2011. Kudus: Nora Media Enterprise. Hlm:173.
[2] Ibid. Hlm: 175.
[3] Ibid. Hlm: 173.
[4] Mudzakir. Manna’ Kholil al-Qathan Studi Ilmu-Ilmu Qur’an. 2001. Jakarta: Pustaka Litera Antarnusa. Hlm: 492.
[5] Op.Cit, Suhadi. Hlm: 177.
[7] Op.Cit, Suhadi. Hlm: 183.
[8] Op.Cit, Farihatni Mulyani.
[9] Op.Cit, Suhadi. Hlm: 184.
[10] Op.Cit, Farihatni Mulyani.
[11] Op.Cit, Suhadi. Hlm: 192.

Selasa, 04 Juni 2013

filsafat pragmatisme

-->
PRAGMATISME


Makalah
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: FILSAFAT
Dosen Pengampu: Drs.Muh Afif






Disusun Oleh :
Muchammad ‘Izzul Ma’aly

111516



SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) KUDUS
JURUSAN TARBIYAH 
PROGRAM STUDI BAHASA ARAB (PBA)
2012

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Kata banyak pakar, filsafat adalah induk dari segala ilmu pengetahuan yang telah berkembang menjadi begitu banyak cabang. Salah satu cabangnya yang berkembang begitu pesat ialah filsafat ilmu pengetahuan. Dengan demikian pula, corak sistem kefilsafatan menjadi sangat beragam dan rumit.[1]
Wacana filsafat yang menjadi topik utama pada zaman modern, khususnya abad ke 17, adalah persoalan epistemologi. Pertanyaan pokok dalam bidang epistemologi adalah bagaimana manusia memperoleh  pengetahuan dan apakah sarana yang paling memadai untuk mencapai pengetahuan yang benar, serta apa yang dimaksud dengan kebenaran itu sendiri. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang bercorak epistemologi ini, maka dalam filsafat abad ke 17 munculah dua aliran filsafat yang memberikan jawaban yang berbeda, bahkan saling bertentangan. Aliran filsafat tersebut adalah rasionalisme dan empirisme.
Empirisme sendiri pada abad ke 19 dan 20 berkembang lebih jauh menjadi beebrapa aliran yang berbeda, yaitu positivisme, materialisme, pragmatisme. Dibawah ini, akan diulas lebih jelas tentang aliran pragmatisme.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian Pragmatisme?
2.      Siapa Saja Tokoh Filsafat Pragmatisme?
3.      Bagaimana Kritik Terhadap Pragmatisme?
4.      Apa daya tarik Pragmatisme?

C.    Tujuan
            Untuk mengetahui maksud dari filsafat pragmatisme beserta tokoh, kritik dan daya tarik dari filsafat pragmatisme tersebut.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Pragmatisme
Pragmatisme berasal dari kata pragma (bahasa yunani) yang berarti tindakan, perbuatan. Pragmatisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa yang benar yang dibuktikan  dirinya sebagai benar dengan perantara akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis. Aliran ini bersedia menerima segala sesuatu, asal saja membawa akibat praktis. Pengalaman-pengalaman pribadi, kebenaran mistis semua bisa diterima sebagai benar  dan dasar tindakan asalkan membawa akibat yang pragtis yang bermanfaat. Dengan demikian patokan pragmatisme adalah “manfaat bagi hidup praktis”
Kata pragmatisme sering sekali di ucapkan orang. Orang-orang menyebut kata ini biasanya  dalam pengertian praktis. Jika orang berkata, rencana ini kurang pragmatis, maka maksudnya adalah rencana ini kurang praktis. Pengertian seperti itu tidak begitu jauh dari pengertian pragmatisme yang sebenarnya, tapi belum menggambarkan keseluruhan pengertian pragmatisme.[2]
Pragmatisme adalah aliran dari filsafat  yang berpandangan bahwa kriteria kebenaran sesuatu adalah  apakah sesuatu itu memiliki kegunaan bagi kehidupan nyata oleh sebab itu kebenaran  sifatnya menjadi relative  tidak mutlak. Mungkin sesuatu konsep atau peraturan sama sekali tidak memberikan kegunaan  bagi masyarakat tertentu, tetapi berguna bagi masyarakat yang lain. Maka konsep itu dinyatakan benar oleh masyarakat yang kedua.
Pragmatisme dalam perkembanganya mengalami perbedaan kesimpulan walaupun berangkat dari ggasan asal yang sama. Kendati demikian ada tiga patokan yang disetujui  aliran pragmatism yaitu, (1) Menolak segala intelektualisme dan (2) Absolutisme, serta (3) Meremehkan logika formal.
Pragmatisme berpegang teguh pada praktek.  Berusaha menemukan asal mula serta hakekat terdalam segala sesuatu merupakan kegiatan yang sangat menarik, meskipun kegiatan tersebut luar biasa sulitnya. Sejarah menunjukan sengketa antara masalah ini di bidang filsafat selalu menyebabkan adanya sementara orang yang menoloknya sebagai suatu masalah yang menyebabkan sementara orang yang lain memandangnya sebagai suatu yang tidak berfaedah.
Penganut pragmatisme menaruh perhatian pada praktek. Mereka memandang hidup manusia sebagai suatu perjuangan untuk hidup yang berlangsung terus-menerus yang di dalamnya terpenting adalah  konsekuensi-konsekuensi yang bersifat praktis. Konsekuensi-konsekuensi yang bersifat praktis tersebut erat hubunganya dengan makna  dan kebenaran.

B.     Tokoh-tokoh Pragmatisme
1.      Wiliam James (1842-1910)
Wiliam James lahir di New York pada tahun 1842 M, anak Hery James,Sr. ayahnya adalah orang yang terkenal, berkedudukan yang tinggi, pemikir yang kreatif, selain kaya keluarganya memang dibekali kemampuan intelektual yang tinggi. Keluarganya juga menerapkan humanisme dalam kehidupan serta mengembangkannya. Ayah James rajin mempelajari manusia dan agama. Pokoknya, kehidupan James penuh dengan masa belajar yang dibarengi usaha yang kreatif untuk menjawab berbagai masalah yang berkenaan dengan kehidupan karya-karyanya antara lain, The Principles of psychology (1890),Thee Will to Belive (1897), the Varietes of Religious Exsperience (1902), dan Pragmatism(1970).[3]
Di dalam bukunya the Maening Of Truth, Arti kebenaran, James mengemukakan bahwa tiada kebenaran yang mutlak, yang berlaku umum, yang bersifat tetap yang berdiri sendiri dan terlepas dari segala akal yang mengenal. Sebab pengalaman kita berjalan terus  dan segala yang kita anggap benar dalam pengembangan  itu senantiasa berubah, kaena dalam prakteknya apa yang kita anggap benar dapat dikoreksi oleh pengalaman berikutnya. Oleh karena itu tidak ada kebenaran mutlak, yang ada adalah kebenaran-kebenaran (artinya dalam bentuk jamak) yaitu apa yang benar dalam pengalaman-pengalaman khusus  yang setiap kali dapat di ubah  oleh pengalaman berikutnya.
Nilai pengalaman dalam pragmatisme tergantung pada akibatnya, kepada kerjanya artinya tergantung dari keberhasilan dari perbuatan yang disiapkan oleh pertimbangan itu. Pertimbangan itu benar jikalau bermanfaat bagi pelakunya  jika memperkaya hidup serta kemungkinan-kemungkinan hidup.
Di dalam bukunya, the Varietes of Religious Exsperience atau keaneka ragaman pengalaman keagamaan, James mengemukakan bahwa  gejala keagamaan itu berasal  dari kebutuhan-kebutuhan perorangan yang tidak disadari, yang mengungkapkan diri didalam kesadaran  dengan cara yang berlainan , barang kali didalam bawah sadar kita, kita menjumpai suatu realistis cosmis yang lebih tinggi tetapi hanya sebuah kemungkinan saja. Sebab tiada sesuatu yang meneguhkan  hal itu secara mutlak. Bagi orang perorang kepercayaan terhadap suatu realistis cosmis yang lebih tinggi  merupakan nilai subyektif yang relative, sepanjang kepercayaan itu memberikan kepercayaan penghiburan rohani, penguatan keberanian hidup perasaan damai keamanan dan kasih kepada sesama dan lain-lain.
James membawakan pragmatisme. Isme ini diturunkan kepada Dewey yang mempraktekannya kedalam pendidikan. Pemdidikan menghasilkan orang Amerika sekarang. Dengan kata lain orang yang paling bertanggungjawab terhadap gernerasi Amerika sekarang adalah Wiliam James dan John Dewey. Apa yang merusak dari filsafat mereka itu? Satu saja yang kita sebut : Pandanganbahwa tidak ada hokum moral umum, tidak ada kebenaran umum, semua kebenaran belum final. Ini berakibat subyektivisme, individualisme, dan dua ini sudah cukup untuk mengguncangkan  kehidupan, mengancam kemanusiaan, bahkan manusianya itu sendiri.

2.      John Dewey (1859-1952)
John Dewey lahir di Baltimore, Sekalipun Dewey bekerja sendiri terlepas dari Wiliam James, namun menghasilkan pemikiran yang menampakan persamaan dengan gagasan James. Dewey adalah seorang yang pragmatis, menurutnya pragmatisme bertujuan untuk memperbaiki kehidupan manusia serta lingkungannya atau mengatur kehidupan manusia serta aktivitasnya untuk memenuhi kebutuhan manusiawi.
Sebagai pengikut pragmatism John Dewey menyatakan bahwa tugas filsafat adalah memberikan pengaruh bagi kehidupan nyata. Filsafat tidak boleh larut dalam pemikiran-pemikiran metafisik yang kurang praktis tidak ada faedahnya. Dewey lebih suka menyebut sistemnya dengan istilah instrumentalisme. Pengalaman adalah salah satu kunci  dalam filsafat instrumentalisme. Oleh karena itu filsafat harus berpijak pada pengalaman dan mengolahnya secara aktif kritis. Dengan demikian filsafat akan akan dapat menyusun norma-norma  dan nilai-nilai.
Instrumentalisme adalah suatu usaha untuk menyusun teori yang logis dan tepat dari konsep-konsep, pertimbangan-pertimbangan penyimpulan-penyimpulan dalan bentuknya yang bermacam-macam itu dengan cara utama menyelidiki bagaimana pikiran-pikiran itu berfungsi dalam penemuan-penemuan yang berdasarkan pengalaman yang mengenai konsekuensi-konsekuensi di masa depan.
Menurut Dewey, kita ini hidup dalam dunia yang belum selesai penciptaannya. Sikap Dewey dapat dipahami dengan sebaik-baiknya dengan meneliti tiga aspek dari yang kita namakan instrumentalisme. Pertama, kata “temporalisme” yang berarti ada gerak dan kemajuan  nyata dalam waktu. Kedua, kata “futurisme” mendorong kita untuk melihat hari esok dan tidak pada hari kemaren. Ketiga, kata “milionarisme” berarti dunia dapat diubah  lebih baik dengan tenaga kita. Pandangan ini dianut oleh Wiliam James.

C.    Kritik Terhadap pragmatism
Kekiliruan pragmatism dapat di buktikan dalam tigatataran pemikiran :
  1. Kritik dari segi landasan pragmatism
Pragmatisme dilandaskan pada pemikiran dasar (Aqidah) pemisahan agama dari kehidupan (sekularisme). Hal ini Nampak dari perkembangan historis kemunculan pragmatisme yang merupakan perkembangan lebih lanjut dari empirisme. Dengan demikian dalam konteks idiologis, pragmatisme berarti menolak agama sebagai sumber  ilmu pengetahuan.
Jadi, pemikiran pemisahan agama dari kehidupan merupakan  jalan tengah diantara dua sisi pemikiran tadi. Penyelesaian jalan tengah mungkin saja dapat terwujud di antara dua pemikiran  yang berbeda (tapi masih mempunyai azas yang sama). Namun penyelesaian seperti ini tidak akan terwujud  di antara dua pemikiran yang kontradiktif. Sebab dalam hal ini hanya ada dua kemungkinan. Yang pertama adalah mengakui keberadaan Al Khaliq yang menciptakan manusia, alam semesta, dan kehidupan. Dan dari sinilah dinahas apakah Al Khaliq telah menentukan suatu peraturan tertentu dan manusia diwajibkan  untuk melaksanakanya dalam kehidupan dan apakah Al Khaliq akan menghisab manusia setelah mati megenai kriterianya terhadap peraturan Al Khaliq ini. Sedang yang kedua adalah mengingkari keberadaan Al Khaliq. Dan dari sinilah dapat dicapai kesimpulan, bahwa agama tidak perlu lagi dipisahkan dari kehidupan,tapi bahkan terus dibuang dari kehidupan.
  1. Kritik dari segi metode pemikiran
Pragmatisme yang tercabang dari Emperisme Nampak jelas menggunakan metode Ilmiyah yang menjadikan sebagai asas berfikir untuk segala bidang pemikiran  baik yang berkenaan dengan saint danteknologi maupun ilmu-ilmu sosial kemasyarakatan  ini adalah satu kekeliruan.
  1. Kritik terhadap pragmatisme itu sendiri
Pragmatisme adalah aliran yang mengukur  kebenaran suatu ide dengan kegunaan  praktis yang dihasilkanya untuk memenuhi kebutuhan manusia. Ide ini keliru dari tiga sisi.
Pertama, pragmatisme mencampur adukan kriteria kebenaran  ide dengan kegunaan praktisnya. Kebenaran suatu ide adalah satu hal, sedangkan praktis ide itu adalah hal lain. Kebenaran sebuah ide diukur dengan  kesesuaian ide itu dengan realistas, atau dengan standar-standar yang dibangun  di atas ide dasar  yang sudah diketahui kesesuaiannya dengan realitas. Sedang kegunaan praktis suatu ide untuk memenuhi hajat hidup manusia tidak diukur dari keberhasilan penerapan ide itu sendiri, tetapi dari kebenaran ide yang diterapkan. Maka, kegunaan praktis ide tidak mengandung implikasi kebenaran ide, tetapi hanya menunjukan  fakta terpuaskanya kebutuhan manusia.
Kedua, pragmatisme menafikan peran manusia. Menetapkan kebenaran sebuah ide adalah aktivitas intelektual dengan menggunakan standar-standar tertentu. Sedang penetapan kepuasan manusia dalam pemenuhan kebutuhannya adalah sebuah  identivikasi instinktif. Memang  indentifikasi instinktif dapat menjadi ukuran kepuasan manusia dalam pemuasan hajatnya, tapi tak dapat menjadi ukuran kebenaran sebuah ide. Maka, pragmatisme telah menafikan aktivitas intelektual dan menggantinya dengan identifikasi instinktif. Atau dengan kata lain, pragmatisme telah menundukan keputusan akal kepada kesimpulan yang dihasilkan dari identifikasi instinktif.
Ketiga, pragmatisme menimbulkan relativitas dan kenisbian kebenaran sesuai dengan kebenaran  subyek penilaian ide, baik individu, kelompok, maupun masyarakat dan perubahan kontek waktu dan tempat. Dengan kata lain kebenaran hakiki pragmatisme baru dapat dibuktikan menurut pragmatisme itu sendiri setelah melalui pengujian kepada seluruh manusia  dalam seluruh waktu dan tempat. Dan ini mustahil dan tak akan pernah terjadi. Maka, pragmatisme telah menjelaskan  ikonsistensi internal yang dikandungnya dan menafikan dirinya sendiri.

D.    Daya Tarik Pragmatisme
Dengan sejumlah cara pragmatisme merupakan sebuah ajaran yang menarik bagi sementara orang. misalnya, paham tersebut menitik beratkan pada pengalaman dan bersifat naturalistik, tetapi sekaligus menyerahkan tugas yang nyata-nyata bersifat kraetif kepada orang yang memperoleh pengetahuan. Pragmatisme bersangkutan dengan masalah-masalah  mengenai organisme di dalam perjuangan  untuk kelangsungan hidupnya, dan menjadikan penyelesaian masalah  sebagai pendorong bagi tingkah laku, dan karenanya sebagai kunci bagi semua penafsiran kefilsafatan.
Bahkan perenungan kefilsafatan dipandang sebagai alat untuk menyelesaikan masalah mengenai pentesuaian. Selanjutnya pragmatisme memberi dorongan untuk bertindak. Disinilah letak kekuatan kreatif suatu organisme; ia tidak puas hanya memandang sesuatu secara pasif. Diatas segala-galanya pragmatisme merupakan suatu ajaran yang memberikan  ukuran bagi makna dan kebenaran berdasarkan atas proses yang hidup dari penyelesaian masalah. Hal ini sangat menarik bagi banyak orang, khususnya bagi mereka yang ingin mengubah dunia.










BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Pragmatisme berpegang teguh pada praktek, memiliki kekuatan kraetif, karena pragmatisme memberi dorongan untuk bertindak. Pragmatisme juga suatu paham yang menarik bagi banyak orang  namun terdapat juga kelemahan dalam paham ini.
Tokoh-tokoh Pragmatime:
1.      Wiliam James (1842-1910)
2.      John Dewey (1859-1952)
Kritik Terhadap Pragmatisme:
1.      Kritik dari segi landasan pragmatism
2.      Kritik dari segi metode pemikiran
3.      Kritik terhadap pragmatism itu sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

Katt soff, L.O.1989. Pengantar Filsafat(Terjemahan Soesono Soemargono).Yogyakarta:      Tiara Wacana.
Praja, Juhaya.S. 2003. Aliran-Aliran Filsafat & Etika. Jakarta Timur: Prenada Media.
Tafsir, Ahmad.1990.Filsafat Umum Akal dan Hati Sejak Thales Sampai James.Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Zainuddin, Fananie. 1992. Filsafat Ilmu dan Perkebangannya. Surakarta: Muhammadiyah University Press




[1]Fananie zainuddin.1992.Filsafat Ilmu dan Perkembangannya.Surakarta;Muhammadiyah University Press.
[2] Ahmad Tafsir.1990.Filsafat Umum Akal dan Hati sejak Thales Sampai James.Bandung:PT Remaja Rosdakarya.
[3] Juhaya S. Praja.2003.Aliran-Aliran Filsafat & Etika.Jakarta :Prenada Media. Hlm 172